
UAPAYA DAN KIPRAH MAULANA SYAIKH SEBAGAI
AGEN OF CHANGE MEMBANGUN ETOS UMAT DI NTB
Muslihan Habib, M.Ag
Sejak tahun 1934 M, jauh sebelum Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini lahir, Maulana Syaikh Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid telah menancapkan kiprahnya untuk negeri ini berjuang membangun keberagamaan umat dan masyarakat yang saat itu masih hidup terpuruk, tenggelam dalam kebodohan dan keterbelakangan di berbagai sektor kehidupan. Lalu, kehadiran dan kemunculan “sang matahari terbit dari timur” (gelar Maulana Syeikh-red) ini di mata umat, “bagaikan air yang menghilangkan haus dan dahaga dan bagaikan hujan yang turun membawa berkah, ketika menyirami bumi yang sedang tandus dan gersang”.
BULAN BINTANG BERSINAR LIMA
“ Makna Simbolik Dalam Perspektif Kesejarahan “
H. Muhammad Suhaidi
(Ketua Ponpes Nahdlatul Wathan Jakarta)

Falsafah Lambang Organisasi Nahdlatul Wathan adalah :Bulan melambangkan Islam, Bintang melambangkan Iman dan Taqwa, Sinar Lima melambangbkan Rukun Islam, Warna gambang dan tulisan putih melambangkan Ikhlas dan Istiqomah, Warna dasar hijau melambangkan Selamat Bahagia Dunia Akhirat.
Secara normatif, simbol seringkali diartikan sebatas penghias seperti bendera atau vigura dalam sebuah organisasi. Nyaris tidak gali filosofi dan makna kesejarahan dibalik simbol tersebut. Padahal betapa sebuah simbol akan sangat bermakna ketika kita mau melihat sekilas sejarah bagaimana simbol itu dibuat. Dengan demikian, sangatlah tepat dan cerdas bila simbol Bulan Bintang Bersinar Lima dipahami sebagai sebuah nilai kesejarahan yang berkaitan dengan agama dan negara bahkan lebih dari hal tersebut sebagaimana akan dijelaskan berikut ini.
AMAL USAHA NW TERUS BERKEMBANG BERKAT
YAKIN, IKHLAS & ISTIQOMAH
Hj. Sitti Raihanun Zainuddin AM
Syukur Alhamdulillah, amal usaha Nahdlatul Wathan terus tumbuh dan berkembang seiring dengan tuntutan perkembangan zaman. Perkembangan ini tentunya tidak terlepas dari prinsip-prinsip perjuangan Nahdlatul Wathan yang telah ditanamkan oleh Ayahanda Al-Magfurlah Maulana Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid, yakni YAKIN, IKHLAS dan ISTIQOMAH. Prinsip-prinsip perjuangan inilah yang melahirkan konsep SAMI’NA WA ‘ATHA’NA dalam doktrin perjuangan Nahdlatul Wathan.
Orang yang yakin akan kebenaran sesuatu akan ikhlas melaksanakan segala keputusan, serta istiqomah mewujudkannya. Dengan prinsip perjuangan ini Ayahanda berhasil melewati berbagai rintangan dalam perjuangan sehingga beliau dapat menyaksikan perkembangan amal usaha Nahdlatul Wathan, khususnya lembaga pendidikan Nahdlatul Wathan yang pada akhir hayat beliau sudah berjumlah 700 dan sekarang sudah lebih 900 buah. Hal ini yang harus kita syukuri. Coba bayangkan bila Nahdlatul Wathan tidak ada maka banyak di antara kita ini yang tidak akan dapat mengenyam pendidikan. Silahkan bertanya kepada warga NW dan Pulau Lombok yang lahir pada tahun 60-an dan 70-an bahkan mereka yang berusia sekolah ditahun 80-an.