
DUTA FORDNAS-NW MESIR :
WADAH SILATURRAHMI WARGA NADHIYYIN DI MESIR
Awalnya adalah tahun 2003, ketika kawan-kawan alumni sekolah berlabel NW mulai intens melakukan kajian dan diskusi. Kelompok kajian ini awalnya berjalan tanpa nama dan tanpa pengurus definitif. Barulah pada bulan Maret 2004, setelah meminta pendapat kepada salah seorang sesepuh alumni NW di Mesir yaitu DR. M. Said Ghozali MA. (saat itu beliau masih kandidat Master Ushul Fikh di Universitas al Azhar), anggota kajian sepakat membentuk sebuah forum diskusi alumnus NW bernama Kelompok Study al Abror. Saat itu jumlah anggota kajian yang aktif adalah 10 orang mahasiswa. Setelah setahun berjalan serta bertambahnya jumlah mahasiswa NW yang menuntut ilmu di Mesir maka muncul niat untuk mendirikan DUTA NW di Mesir. Dan setelah melalui musyawarah, disusunlah proposal beserta blue print Kelompok Study untuk dikirim ke NW. Sehingga sejak saat itu Kelompok Study al Abror resmi bermetamorfosis menjadi DUTA NW di Mesir.
HASANAIN JUAINI
PERAIH PENGHARGAAN RAMON MAGSAYSAY 2011
Penghargaan Ramon Magsaysay 2011 yang diterima Hasanain Juaini merupakan penghargaan paling sepaktakuler untuk kawasan asia tenggara. Karena keberhasilan beliau dalam mengembangkan pesantren yang peduli lingkungan, menghormati perempuan, serta membangun kerukunan beragama. Demikian petikan wawancara dengan beliau yang dilakukan Sinarlima melalui jaringan telepon.
Penghargaan Ramon Magsaysay yang sering disebut sebagai Nobel versi Asia ini diserahkan kepada lima orang yang dianggap sangat berprestasi termasuk Hasanain Juaini di Kota Manila, Filipina, Rabu 31 Agustus2011
Sebagai pemimpin Pondok Pesantren Nurul Haramain di Desa Lembuak, Lombok Barat, Propinsi Nusa Tenggara Barat dengan sekita popularitas beliau membuming dan bahkan nama Hasanain Juaini dapat disejajarkan dengan berbagai tokoh ternama di Indonesia seperti Abdurrahman Wahid, Mochtar Lubis, atau Pramoedya Ananta Toer, yang juga pernah meraih penghargaan Ramon Magsaysay.