
Al-Tauhid
qur’an hadits landasan kita
Bukan petunjuk bake’ belata !!!
Ataupun ceceta ramalan belaka
I’tiqad suci harus dijaga
(al-magfurlah dalam wasiat renungan masa)
Al-tauhid adalah salah satu ilmu yang membincangkan persoalan bagaimana mengesakan Allah dari sifat, dan af'alNya. Persoalan ini telah mendapat perhatian serius oleh al-Syaithan ketikan Allah berkeinginan menciptakan manusia sebagai makhluk ter-sempurna dibandingkan makhluk lainnya. Malaikat mengajukan keberatan terhadap keinginan Allah Swt. bahkan Syaithan melakukan pembantahan secara terang-terangan terhadap perintah Allah untuk bersujud terhadam manusia pertama yakni Nabi Adam Alaihissalam.
Di daerah Lombok saat Tuan Guru Kiyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid pulang dari Makkah al-Mukarramah, kondisi "gelap gulita" bagi masyarakat Lombok, menjadikan pemurnian aqidah sebagai langkah pertama dalam dakwah beliau. kepercayaan animisme masyarakat sangat kuat. inilah yang kemudian disinggung dalam beberapa bait Wasiat Renungan Masa Pengalaman Lama dan Baru.
Bake’ belata, dalam istilah komunitas Sasak diberikan kepada Setan dan Jin yang jahat. Allah dalam al-qur’an menegaskan;”Dan kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (QS Al-Hijr 15:27).
Dalam Islam, makhluk ciptaan Allah dapat dibedakan antara yang bernyawa dan tak bernyawa. Di antara yang bernyawa adalah jin. Kata jin menurut bahasa (Arab) berasal dari kata ijtinan, yang berarti isthitar (tersembunyi). Jadi jin menurut bahasa berarti sesuatu yang tersembunyi dan halus, sedangkan syetan ialah setiap yang durhaka dari golongan jin, manusia atau hewan. (an-Nas;114/06)
Dinamakan jin, karena ia tersembunyi wujudnya dari pandangan mata manusia. Itulah sebabnya jin dalam wujud aslinya tidak dapat dilihat mata manusia. Kalau ada manusia yang dapat melihat jin, maka jin yang dilihatnya itu adalah jin yang sedang menjelma dalam wujud makhluk yang dapat dilihat mata manusia biasa. “Sesungguhnya ia (jin) dan pengikut-pengikutnya melihat kalian (hai manusia) dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka.” (QS Al-A’raf 7:27).
Tentang asal kejadian jin, Allah menjelaskan, kalau manusia pertama diciptakan dari tanah, maka jin diciptakan dari api yang sangat panas sesuai dengan ayat tersebut di atas. Dalam ayat lain Allah mempertegas: “Dan Kami telah menciptakan jin dari nyala api.” (QS Ar-Rahman 55:15). Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujahid dan Adhdhahak berkata, bahwa yang dimaksud dengan firman Allah: Dari nyala api, ialah dari api murni.
Dalam riwayat lain dari Ibnu Abbas: Dari bara api. (Ditemukan dalam Tafsir Ibnu Katsir). Dalilnya dari hadits riwayat Aisyah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api, dan Adam diciptakan dari apa yang disifatkan(diceritakan) kepada kalian.” [yaitu dari air spermatozoa] (HR Muslim di dalam kitab Az-Zuhd dan Ahmad di dalam Al-Musnad).
Dalam sebuah hadits, Nabi Muhammad SAW bersabda: “Syetan memperlihatkan wujud (diri)nya ketika aku shalat, namun atas pertolongan Allah, aku dapat mencekiknya hingga kurasakan dingin air liurnya di tanganku. Kalau bukan karena doa saudaraku Nabi Sulaiman, pasti kubunuh dia.” (HR Bukhari).
Dalam anggapan orang-orang sebelum Islam datang, Jin dianggap sebagia makhluk keramat, yang harus disembah dan dihormati. Para orang pada masa tersebut menggambarkannya dalam bentuk patung sesembahan mereka.
Dalam kaitan seperti ini istilah Bake’ belata, sebagai jin yang cendrung memiliki sifat “jahat” disandingkan kepada manusia yang menyerupai tingkah laku Bake’ itu sendiri. Perilaku-perilaku yang menyimpang dari ajaran al-Qur’an dan al-Hadits, namun diklaim sebagai ajaran kebenaran dari Tuhan. Sifat Bake’ belata yang dimiliki oleh manusia seperti yang disuratkan dalam wasiat renungan masa pengalaman baru tertuju kepada manusia yang mempunyai perilaku tidak baik atau lebih bertentangan dengan ajaran-ajaran al-quran dan al-sunnah Nabi Saw.
Sikap-sikap Bake’ belata akhir-akhir ini cendrung popular, manusia modern tidak lagi peduli dengan ajaran-ajaran syariat yang telah ditentukan dan digariskan Allah Swt melalui risalah ke-Nabi-an Muhammad Saw. Perlakuan yang menyeleweng oleh manusia modern merupakan hal yang biasa dan tidak lagi dianggap menjadi masalah yang serius. Perintah-perintah Allah dan rasulNya hanya dianggap sebagai normative yang terhenti pada teks-teks belaka.
Selain sikap-sikap manusia seperti Bake’ belata, juga bisa saja menjelma menjadi tulisan-tulisan di Surat kabar, Buku, Jurnal Ilmiah bahkan internet. Ia juga dapat menjadi tontonan-tontonan di televisi atau menghiasi siaran radio. Bake’ belata bahkan mungkin ikut mengalir pada ceramah ustad-ustad ‘instant’ yang semaunya menyitir ayat untuk kepentingannya, atau para politisi yang memberi janji-janji kemakmuran semu .
Iman yang ada dalam diri kita hendaknya mengalir bersama aliran darah kita, iman secara teoritik menjelaskan keyakinan yang mendalam dalam diri manusia melalui sanubari, kemudian menegaskan keyakinan tersebut dalam verbalitas serta mengaplikasikannya dalam amaliah kita baik dalam berubudiyah maupun bermuamalah, iman bukanlah sekedar polesan seperti lipstick atau jilbab modis nan seksi, ia bukanlah seperti jargon-jargon kampanye atau dialektika ceramah yang menawan namun tak berisi.
Dalam bait ke-empat syair ini, al-Magfurlah Maulana Syaikh mengajarkan kita agar selalu menjaga aqidah suci seperti menjaga raga kita dari ancaman virus-virus penyakit yang dapat mengancam jiwa-raga kita. Keimanan merupakan pondasi seorang manusia dalam menggapai ridla Ilahi. Rasul Allah Saw memelihara keimanan para sahabatnya selama 13 tahun, sementara untuk pemeliharaan ibadah hanya 10 tahun, kenyataan ini menunjukkan betapa keyakinan “aqidah” merupakan hal yang sangta mendasar. I’tiqad yang lurus selalu berpegang kepada al-Qur’an dan al-Hadits. Rasul Allah Saw bersabda; Taraqtu fikum amraini maa in Tamassaktum bihima Lan Tadlillu bihim Abadan; Kitabullah wa Sunnatu Rasulillah Saw (al-Qur’an dan al-Sunnah). Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang jika kalian berpegang kepadanya tidak akan celaka selama-lamanya, yakni berpeganglah pada al-Quran dan al-Sunnah Saw.
akhirnya semoga apa yang telah ditegaskan Allah dan rasulNya serta apa-apa yang disuarakan oleh al-Maghfurllah al-Syaikh Zainuddin Abdul Madjid menjadi pegangan kita selama-lamanya dan kita dapat menjadi manusia selamat fi al- dunia wa al-akhirat. Amin.