
THE POWER OF IQRA’: EFEK-DAHSYAT MEMBACA YANG BAIK
Hernowo
Perintah membaca, menelaah, meneliti, menghimpun, dan sebagainya dikaitkan dengan “bi ismi Rabbika” (“dengan nama Tuhanmu”). Pengaitan ini merupakan syarat sehingga menuntut dari si pembaca bukan saja sekadar melakukan pembacaan dengan ikhlas, tetapi juga antara lain memilih bahan-bahan bacaan yang tidak mengantarnya kepada hal-hal yang bertentangan dengan “nama Allah” itu.
—M. Quraish Shihab, “Membumikan” Al-Quran (Mizan, 2007)
ISLAM, YES. LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM?
Jamaludin, MEd
Saya ingin memulai tulisan ini dengan mengajak mengingat kembali kondisi politik umat Islam sekitar tahun 70an. Saat itu, muncul semacam antusiasme menunjukkan identitas keislaman dari kalangan menengah atas umat Islam, setidaknya dalam sikap-sikap formal mereka. Meskipun hal itu, seperti diungkap Nurcholish Madjid (1970), menyimpan pertanyaan apakah itu akibat murni dari daya tarik ide-ide yang ditampilkan oleh pemimpin Islam atau merupakan gejala adaptasi sosial-politik karena “kemenangan” umat Islam atas partai komunis.
MDI Nahdlatul Wathan Jakarta Menjadi Sorotan Masyarakat
Madrasah Diniah Islamiyah (MDI) Nahdlatul Wathan Jakarta yang dipimpin oleh Ahmad Madani, S.Ag di lingkungan perwakilan Nahdlatul Wathan Jakarta semakin menunjukkan perkembangan yang sangat pesat dilihat dari awal berdirinya sampai saat ini. Kemajuan ini tidak luput dari peran para guru yang mengajar di MDI tersebut. Hal ini menandakan prospek anak-anak dalam mempelajari Al-Qur’an semakin membaik. Adanya system dengan metode iqra’ dalam mempelajari Al-Qur’an merupakan salah satu sebab kemajuan dan perkembangan yang terjadi di lembaga pendidikan tersebut.