• VTEM Image Show
  • VTEM Image Show
  • VTEM Image Show
  • VTEM Image Show
  • VTEM Image Show


Pendidikan

THE POWER OF IQRA’: EFEK-DAHSYAT MEMBACA YANG BAIK

Hernowo

          Perintah membaca, menelaah, meneliti, menghimpun, dan sebagainya dikaitkan dengan “bi ismi Rabbika” (“dengan nama Tuhanmu”). Pengaitan ini merupakan syarat sehingga menuntut dari si pembaca bukan saja sekadar melakukan pembacaan dengan ikhlas, tetapi juga antara lain memilih bahan-bahan bacaan yang tidak mengantarnya kepada hal-hal yang bertentangan dengan “nama Allah” itu.

—M. Quraish Shihab, “Membumikan” Al-Quran (Mizan, 2007)

Ada tiga rumusan membaca yang baik berdasarkan “iqra’”. Pertama, membaca yang baik adalah semacam kemampuan membaca yang di dalamnya ada kemampuan menemukan buku yang baik—saya kadang menamainya dengan buku yang “bergizi”. Kedua, membaca yang baik juga berarti memanfaatkan kegiatan membaca sebagai kegiatan “belajar” akan tulisan yang baik—tulisan yang ditulis dengan memenuhi secara ketat kaidah-kaidah reasoning dan tata bahasa yang baik. Dan ketiga, membaca yang baik adalah, tentu saja, membaca yang efektif—kegiatan membaca itu ada efek atau pengaruhnya terhadap peningkatan kualitas diri.

Bacaan yang baik atau tulisan-tulisan yang “bergizi” tidak bergantung pada tema bacaan. Bagi saya, bacaan yang bergizi ditentukan oleh kualitas bahasa-ungkap tulis bacaan tersebut. Apa pun jenis atau tema bacaan apabila bahasa-ungkap tulisnya baik—tertata, jernih (bening), dan menggerakkan pikiran—ia dapat disebut sebagai bacaan yang “bergizi”. Seperti makanan yang bergizi yang menyehatkan tubuh, bacaan yang “bergizi” juga akan dapat menyehatkan pikiran. Bagaimana memilih tulisan atau buku yang “bergizi” yang menyehatkan pikiran?

Memilih buku yang baik atau “bergizi” bukan perkara mudah. Buku-buku yang laris di pasaran belum tentu merupakan bacaan yang ”bergizi”. Saya menciptakan penggolongan buku yang ”bergizi” ini karena keperluan saya untuk mengaitkan kegiatan membaca dengan menulis. Ingat, menulis yang dapat menghasilkan tulisan yang baik ditentukan oleh kegiatan membaca yang baik. Dan kemampuan memilih buku yang baik atau ”bergizi” perlu dimiliki oleh calon-calon penulis yang ingin menghasilkan tulisan yang baik. Salah satu cara memilih dan kemudian menentukan apakah buku tersebut bergizi atau tidak, menurut saya, terletak pada apakah kita mampu mendeteksi kemampuan sang “koki” alias penulis buku tersebut. Apakah sang “koki” memang menguasai materi yang ditulisnya dan punya kompetensi menulis yang tinggi atau tidak?

Apabila sudah menemukan bacaan yang ”bergizi”, rumusan kedua tentang buku yang baik pun akan terbukti. Membaca adalah belajar. Ketika seorang calon penulis menjalankan kegiatan membaca buku yang ”bergizi”, dia tak hanya berusaha memahami isi (konten) buku tersebut. Dalam membaca buku, dia juga belajar bagaimana si penulis menggunakan dan memilih kata yang, tentu saja, kata yang baik dan bervariasi. Intinya, membaca dapat dimanfaatkan untuk belajar bagaimana seorang penulis yang baik merangkai kata-kata secara baik.

Anda bisa berhenti di sini dan kemudian membayangkan apa jadinya apabila seorang penulis enggan membaca? Apa jadinya pula jika ada seorang penulis yang sudah rajin membaca namun buku-buku yang dibacanya tidak terseleksi dengan baik? Sekali lagi, membaca tidak hanya bisa dimanfaatkan untuk memahami isi (konten) sebuah buku. Membaca juga dapat diposisikan sebagai kegiatan belajar—belajar memilih kata, menyusun kalimat, membuat judul, membuka sebuah tulisan, menutup karya tulis berupa makalah, dsb. Ketika seseorang berhasil menemukan sebuah tulisan yang baik, dia sesungguhnya telah belajar kepada “guru” menulis yang baik.

erakhir, adalah tentang bagaimana sebuah buku dapat memiliki efek atau pengaruh terhadap pembacanya. Bagi saya, buku yang baik adalah buku yang mampu mengembangkan (sekaligus menggerakkan) pikiran pembacanya. Membaca efektif adalah membaca yang baik yang membuat buku yang dibacanya berpengaruh pada berkembangnya pikiran. Oleh sebab itu, membaca efektif sering saya artikan sebagai membaca yang ada efeknya. Nah, menemukan hal-hal penting dan berharga (bermakna) dari sebuah buku merupakan salah satu cara agar diri kita (yang membaca) dapat memasukkan sesuatu (yang berkualitas dari sebuah buku) ke dalam diri kita sehingga kualitas diri kita dapat meningkat.