
MDI Nahdlatul Wathan Jakarta Menjadi Sorotan Masyarakat
Madrasah Diniah Islamiyah (MDI) Nahdlatul Wathan Jakarta yang dipimpin oleh Ahmad Madani, S.Ag di lingkungan perwakilan Nahdlatul Wathan Jakarta semakin menunjukkan perkembangan yang sangat pesat dilihat dari awal berdirinya sampai saat ini. Kemajuan ini tidak luput dari peran para guru yang mengajar di MDI tersebut. Hal ini menandakan prospek anak-anak dalam mempelajari Al-Qur’an semakin membaik. Adanya system dengan metode iqra’ dalam mempelajari Al-Qur’an merupakan salah satu sebab kemajuan dan perkembangan yang terjadi di lembaga pendidikan tersebut.
Para peserta didik di MDI NW Jakarta memulai pembelajarannya sejak usia 4 tahun, ini dimaksudkan untuk menanamkan ajaran agama Islam yang mendalam, diharapkan akan tertanam dan menjadi karakter khusus yang membentuk jati dirinya kelak, agar terhindar dari informasi yang tidak sesuai. Melihat zaman sekarang ini yang terus berkembang dan syarat dengan berbagai informasi yang kurang mendidik serta dapat mempengaruhi karakter dan pola dalam berfikir seseorang, sehingga hal tersebut di antisipasi sejak dini.
MDI Nahdlatul Wathan Jakarta pada awalnya adalah Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) dan sekarang telah mangadakan pembaharuan dan perkembangan dengan menjadi lembaga formal di bawah naungan Depatemen Agama. Sampai saat ini perkembangan muridnya sangat luar biasa ungkap kepala Sekolah MDI NW Jakarta, lebih lanjut beliau mengatakan “Kami mulai dari nol untuk membangun semuanya ini, dari tidak punya kelas sampai sekarang alhamdulillah sudah punya kelas”.
Saat ini MDI NW Jakarta telah menggunakan kurikulum yang ditetapkan oleh Depatemen Agama, kurikulum ini dimulai pada tahun 2006 yang awalnya masih menggunakan kurikulum sendiri sebelum munculnya program yang ditawarkan oleh pemerintah. Lebih jauh lagi kurikulum yang digunakan saat ini secara legalitas telah memiliki payung hukum karena berada dibawah naungan Departemen Agama.
Pada awalnya sebelum menjadi MDI, peserta didik hanya belajar Al-Qur’an. Namun sekarang setelah adanya program pemerintah yaitu MDI, pelajaran yang dipelajari oleh peserta didik setara dengan pelajaran MI. Jadi tujuan MDI adalah untuk membantu mereka terutama pelajaran Agama mereka di sekolah formal yang kurang mendapat pelajaran agama. Maka Nahdlatul Wathan menyiapkan lembaga pendidikan Madrasah Diniah Islamiyah yang mana pelajaran mereka khusus pelajaran agama yaitu Bahasa Arab, Sejarah Kebudayaan Islam, Fiqih dan Akhlak.
TPA sebenarnya tidak hilang dan berganti seutuhnya menjadi MDI namun TPA masih menjadi bagian dari MDI tersebut dan diberi mana I’dadiyah atau kelas persiapan. Jadi peserta didik yang dipersiapkan untuk masuk ke MDI dididik terlebih dahulu di I’dadiyah kira–kira 2 tahun, baru setelah itu bisa berpindah ke tingkat Madrasah Diniyah. Untuk peserta didik yang berada di tingkat I’dadiyah mereka diajarkan menghapal surat–surat pendek dan membaca Iqra’. Jadi, persyaratan mereka bisa berpindah dari tingkat 1 ke tingkat 2 adalah apabila peserta didik tersebut telah mampu membaca Al-Qur’an.
Sampai saat ini MDI terus berkembang dari tahun 93, sejak masih bernama TPA dan dipimpin oleh Ust. Muslihan Habib, MA, “Perkembangan itu luar biasa sampai sekarang ini dan masih diminati oleh masyarakat. Terbukti setiap hari, sekalipun bukan waktunya kita menerima murid selalu ada yang mendaftar masuk untuk diterima sebagai murid baru”, ujar Ust. Ahmad, S,Pdi selaku kepala sekolah MDI. Peserta didik tersebut yang ingin mempelajari Al-Qur’an di MDI NW Jakarta selalu diterima dan tidak pernah mendapatkan penolakan sekalipun penerimaan siswa baru telah ditutup. Beliaupun mengatakan “Sempat kita musyawarahkan dengan ketua Yayasan tentang hal itu, jadi saran dari Ketua Yayasan jangan sampai ada penolakan murid, sehingga bukan waktunya menerima murid kita selalu menerima”. Artinya MDI NW dapat menerima murid baru kapan saja yang bener-benar ingin belajar A-Qur’an. Kebiasaan sebuah lembaga pendidikan yang menerima murid baru setiap tahun ajaran baru namun hal serupa tidak berlaku di MD NW Jakarta. Itulah salah satu bukti bahwa MDI NW Jakarta masih diminati oleh masyarakat sampai saat ini.
Lama belajar peserta didik di MDI NW Jakarta adalah selama 4 tahun. Di kelas persiapan yaitu kelas I’dadiyah ada 2 kelas. Untuk kelas 1 A, 1 B Pra MDI, ini yang menjadi persiapan dan jumlah peserta didiknya kurang lebih sekitar seratus orang. Adapun peserta didik MDI sekarang berjumlah 66 0rang. Disamping itu di MDI telah menggunakan ujian akhir. Ujian akhir ini diselenggarakan oleh Departemen Agama tahun pelajaran 2009 – 2010.
Dengan prestasi yang dimiliki MDI NW Jakarta sehingga dipercaya oleh seluruh MDI yang ada di wilayah Cakung Jakarta Timur sebagai penyelenggara ujian akhir. Dimana pada waktu itu jumlah seluruh siswa sekitar 210 peserta dari seluruh MDI yang ada di Jakarta Timur.MDI NW Jakarta terdapat 4 tingkatan, dimulai dari kelas 1, kelas 2 kelas 3 dan kelas 4. Dikelas 4 inilah yang di adakan ujian akhir sama seperti ujian fomal yang dilakukan lembaga-lembaga pendidikan formal seperti SD, SMP dan SMA, karena bernaung di bawah Departemen Agama.
Penyebab berdatangannya para peserta didik tersebut dikarenakan kepuasan para wali murid dengan prestasi yang dihasilkan oleh anaknya yang bersekolah di MDI NW sehingga penyebaran informasi dari mulut kemulut para wali murid tidak terbendung. Disamping itu para peserta didik dan para wali murid juga tertarik dengan system klasikal yang digunakan di MDI NW sehingga menarik para wali murid untuk mempercayakan anaknya pada MDI NW. “Pernah minggu kemarin ada wali murid memasukkan anaknya ke TPA Nahdlatul Wathan dan bertantanya, kenapa TPA di Nahdlatul Wathan itu berbeda dengan TPA-TPA lain, yaitu di selenggarakan dengan system klasikal. Saya menjelaskan pada mereka, karena yang namanya belajar itu ada tingkatan-tingkatannya oleh karena itu mereka diklasikalkan” ujar Ust Amad selaku kepala sekolah MDI NW Jakarta.Dengan system yang digunakan tersebut terbukti bahwa murid–murid yang bersekolah di MDI NW bila ada kegiatan ke agamaaan di sekolah mereka yang formal selalu unggul dan mendapatkan juara. Hal ini menunjukkan bahwa MDI berhasil dalam tujuannya untuk membantu peserta didiknya dalam memahami dengan mendalam pelajaran pelajaran agama. Maka dari situlah kepercayaan pawa wali murid semakin besat kepada MDI NW sehingga banyak para wali murid yang mempercayakan NDI sebagai media bagi anaknya dalam mempelajari Al-Qur’an.
Pada tahun 2011 Departemen Agama menyelenggarakan festival dengan tema festifal anak taqwa. Program Departemen Agama ini di kelola oleh KKDT (Kelompok Kerja Diniyah Takmiliyah). Departemen Agama mengadakan program tersebut setiap tahunnya. MDI NW Jakarta turut berpartisipasi dalam festifal tersebut dan mendapat juara II di bidang Musabaqoh tilawatil Qur’an. Disamping itu ada juga program manasik haji. MDI NW Jakarta juga berpartisipasi dalam memperoleh tropi dengan jumlah peserta terbanyak.
Karena tujuan atau visi dan misi MDI NW Jakarta adalah membentuk insan-insan Qur’ani yang berakhlakul karimah, dengan misimengajarkan Al-Qur’an secara aktif dan menyenangkan, menerapkan akhlakul karimah dengan memberikan pelajaran–pelajaran yang berkaitan dengan akhlak budi pekerti dan membantu pemerintah dalam mengentaskan buta huruf Al-Qur’an. Sampai saat ini MDI NW tetap eksis dan konsisten dalam menjalankan amanah yang di berikan oleh para wali murid sehingga banyak wali murid yang terpuaskan dengan kinerja para guru yang mengajar di MDI NW tersebut.
Di TPA, pembelajarannya cuma 2 jam, mulai dari jam setengah 4 sampai setengah 6 sore. Adapun ntuk ekstrakurikuler kita hanya punya Hadlroh dan Marawis yang hanya berjalan 1 tahun kemarin. Itu tidak berjalan sampai sekarang karena perlengkapan Marawis di pinjam oleh Anak Panti Asuhan Nahdlatul Wathan. Jadi, di MD, yang berjalan hanya Hadlroh dan itu berjalan tahun 2010 -2011. Ini pun tidak berjalan lama karena terkait dengan masalah pendanaan, walau bagaimanapun mereka membutuhkan pelatih yang harus di berikan reward. Jadi untuk tahun 2011 – 2012 program itu tidak berjalan karena permasalahan diatas. Rencana program itu tetap exis mudah – mudahan ada dukunga dari walimurid, yang memang sudah di sosialisasikan di tahun pelajaran 2010 – 2011 dan mendapat resfon dari mereka dengan apresiasi luar biasa.
Seperti yang saya katakan pada pemikiran awal, jadi di TPA Nahdlatul Wathan itu berbeda dengan TPA-TPA lain, karena di TPA itu sendiri di Nahdlatul Wathan mereka secara kependidikan di klasikalkan, itu ciri has di Nahdlatul Wathan. Secara hubungan ilahiyah kita ada do’a khusus, dari awal belajar mereka membaca Solawat Nahdlatain diiringi dengan membaca surat – surat pendek di mulai dari Al-Hakumutakatsur sampai dengan Annas. Itu menjadi pembuka untuk belajar mereka, lalu pada akhir pembelajaran di tutup dengan Do’a Pusaka (Robanan Fa’na Bima). Yang membedakan dari TPA-TPA lain, sehingga di harapkan Allah memberikan keberkahan – keberkahan yang ada pada Guru kita.Mudah-mudahan keberkahan tersebut dapat kita raih dengan menanamkan apa yang diajarkan untuk anak-anak kita.
Adapun program Hizib, itu masuk dalam Ekstra kurikuler yang di laksanakan setiap malam jum’at, program ini berjalan sampai sekarang, dipimpin oleh semua guru dengan dijadwalkan setiap minggu. Jadi, setiap guru mempunyai jadwal terkadang ada yang dapat 2 kali dan 1 kali, kegiatan ini berjalan tiap minggu, di lakukan setiap malam jum’at. Inilah beberapa hal yang membedakan antara MD atau TPA yang lain dengan MD kita (Nahdlatul Wathan)