• VTEM Image Show
  • VTEM Image Show
  • VTEM Image Show
  • VTEM Image Show
  • VTEM Image Show


Sosial Budaya

OBSESI TERHADAP DESA MADANI

 Obsesinya terhadap pelestarian alam terutama lingkungan menurut beberapa teman seperjuangannya ketika mereka bersama–sama di Jakarta mengatakan bahwa memang Hasanain Juaini ini sangat peduli terhadap alam sekitar; “ kami pernah disumbang sekitar 100 lebih pohon Mahuni untuk ditanam” ungkap Ust.Suhaidi di gabus pada SinarLIMA. Prihatinnya terhadap kondisi masyarakat yang disebutnya tidak terlatih menerima perbedaan, Hasanain terobsesi mendirikan semacam desa yang dihuni berbagai umat beragama. Secara agak bersemangat, Hasanain membayangkan desa itu nantinya dapat mendidik masyarakat menghormati pluralitas, termasuk menghargai alam sekitar.

Di pondok pesantren yang dipimpinnya, selain penanaman bibit tanaman, para santri dididik terbuka soal hubungan antar agama, di dalam desa itu, warganya yang berbeda agama bisa melakukan musyawarah, saling berkasih sayang, serta kerjasama. "Saya ingin membuat prototipe dari desa madani," ungkapnya.

Dia menyebut gagasan pendirian desa plural itu sebagai desa madani, karena ingin mencontoh desa yang pernah dibangun oleh Nabi Muhammad di masa awal Islam di tanah Arab, lebih dari seribu tahun lalu. "Desa yang dibangun Rasulullah, yang plural (seperti) itu," katanya, setengah menganalisa.

"Itu yang contoh yang bisa diangkat sekarang. Tidak ada yang an sich muslim semua, atau tidak ada yang namanya moslem village," katanya berterus-terang. Bahkan menurutnya, praktek hidup secara plural juga ditunjukkan para pemimpin Islam setelah Nabi Muhammad wafat. "Itu yang contoh yang bisa diangkat sekarang. Tidak ada yang ansich muslim semua, atau tidak ada yang namanya moslem village" "Para kalifah itu, di rumahnya tidak hanya satu agamanya," ungkap Hasanain, yang lulus dari Fakultas Hukum Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab, di Jakarta tahun 1995. "Kalau di rumahnya ada non muslimnya, bagaimana di desa atau di kotanya? Fakta yang pernah itu plural," tegasnya.

Menurutnya, dalam kehidupan luas sekarang ini, tidak bisa dihindari hidup dengan orang yang berbeda. Kepada BBC- Indonesia dia mengatakan bahwa masyarakat ideal adalah masyarakat yang tahu bagaimana menghargai hidup dalam perbedaan "Maka desa yang ideal yang bisa mengajarkan anggotanya bagaimana hidup dalam perbedaan, itulah yang saya impikan," ulang Hasanain. ( SL/berbagai sumber )